Saturday, May 2, 2020

Pelajari Erosi Dan Dampaknya

Pengertian Erosi Dan Dampaknya . Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah. Bagaimanapun, praktik tata guna lahan yang maju dapat membatasi erosi, menggunakan teknik semisal terrace-building, praktik konservasi ladang dan penanaman pohon.

Definisi Erosi

Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian bagian tanah terkikis dan terangkut, kemudian diendapkan di tempat lain (Arsyad, 2010).

Dikutip menurut wikipedia Erosi merupakan peristiwa abrasi padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, ciri hujan, creep dalam tanah & material lain di bawah dampak gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal fauna yang membuat liang, dalam hal ini diklaim bio-erosi. Erosi tidak sama dengan pelapukan dampak cuaca, yang mana merupakan proses penghancuran mineral batuan menggunakan proses kimiawi juga fisik, atau gabungan keduanya.

Proses erosi terjadi melalui penghancuran, pengangkutan, dan pengendapan (Meyer et al.1991; Utomo 1987; & Foth (1978, dalam Banuwa, 2008). Di alam terdapat 2 penyebab primer yang aktif pada proses ini yakni angin dan air. Pada daerah iklim tropik basah misalnya Indonesia, air adalah penyebab primer terjadinya erosi, sedangkan angin tidak memiliki imbas berarti (Arsyad 2010).

Beasley (1972, dalam Banuwa, 2008) & Hudson (1976, pada Banuwa, 2008) berpendapat, bahwa erosi adalah proses kerja fisik yg holistik prosesnya menggunakan tenaga. Energi ini dipakai buat menghancurkan agregat tanah (detachment), memercikkan partikel tanah (splash), menyebabkan gejolak (turbulence) dalam limpasan permukaan, serta menghanyutkan partikel tanah.

Erosi tanah (soil erosion) terjadi melalui dua proses yakni proses penghancuran partikel-partikel tanah (detachment) dan proses pengangkutan (transport) partikel-partikel tanah yg sudah dihancurkan. Kedua proses ini terjadi dampak hujan (rain) dan genre bagian atas (run off) yg ditentukan oleh berbagai faktor diantaranya curah hujan (intensitas, diameter, usang & jumlah hujan), karakteristik tanah (sifat fisik), penutupan huma (land cover), kemiringan lereng, panjang lereng dan sebagainya (Wischmeier dan Smith 1978, dalam Banuwa, 2008). Faktor-faktor tersebut satu sama lain bekerja secara simultan pada menghipnotis erosi (Banuwa, 2008)

Mekanisme Terjadinya Erosi

Mekanisme terjadinya erosi menurut Schwab (1999, dalam Nurpilihan, 2011) diidentifikasikan menjadi tiga tahap yaitu

  1. Detachment (penghancuran tanah dari agregat tanah menjadi partikel-partikel tanah);
  2. Transportation (pengangkutan partikel tanah oleh limpasan hujan atau run off ) dan
  3. Sedimentation (sedimen/pengendapan tanah tererosi);

Menurut Manik (2003) erosi merupakan proses penghancuran, pengikisan dan pengangkutan buah-buah tanah atau bagian-bagian tanah dari stau loka ke loka lain oleh air atau angin. Kehilangan tanah ditempat erosi terjadi merupakan sebanyak tanah yang terangkut berdasarkan loka itu. Di daerah yg beriklim basah misalnya pada Indonesia, erosi terutama disebabkan oleh air yg adalah output kerja dispersi buah-buah hujan menggunakan aliran bagian atas.

Laju erosi (E) ditentukan oleh factor-faktor:

  • Iklim (i);
  • lereng atau topografi (r);
  • jenis dan tipe vegetasi (v);
  • tanah (t);
  • serta manusia (m),

yg dirumuskan sebegai berikut: E = f (i,r,v,t,m).

Selanjutnya Manik (2003) menyatakan bahwa berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi laju erosi tersebut, faktor yg bisa diubah manusia merupakan jenis dan tipe vegetasi (flora), sebagian dari sifat tanah (kesuburan tanah, ketahanan agregat, & kapasitas infiltrasi), dan panjang lereng. Faktor yg tidak dapat atau sulit diubah manusia adalah iklim, tipe tanah, & kecuraman lereng. Erosi tanah menaruh dampak pada 2 loka, yaitu pada tempat terjadinya erosi (internal) & di luar terjadinya erosi (external). Dampak internal berupa penurunan kesuburan dan produktivitas lahan, sedangkan impak eksternal adalah terjadinya pencemaran perairan dan sedimentasi, yang menyebabkan pendangkalan sungai, waduk, danau atau pantai.

Erosi internal merupakan terangkutnya buah-butir tanah utama ke bawah & masuk ke pada celah celah atau pori-pori tanah sehingga tanah menjadi kedap air & udara. Erosi ini nir menyebabkan kerusakan yg berarti, karena bagian bagian tanah tidak hilang atau pindah ke loka lain. Akibat erosi ini merupakan menurunnya kapasitas infiltrasi tanah secara cepat sehingga menaikkan aliran permukaan yang akan mengakibatkan terjadinya erosi lembar atau erosi alur (Susanto, 1992).

Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yg sesuai menggunakan kondisi-syarat yang diharapkan agar nir terjadi kerusakan tanah (Arsyad, 2010). Konservasi tanah bukan berarti penundaan atau pelarangan penggunaan tanah, namun menyesuaikan jenis penggunaannya dengan kemampuan tanah & menaruh perlakuan sesuai menggunakan syarat-kondisi yg dibutuhkan agar tanah berfungsi secara lestari. Setiap perlakuan yang diberikan dalam sebidang tanah akan menghipnotis tata air, sebagai akibatnya usaha buat mengkonservasi taah pula adalah perlindungan air (Priyono & Cahyono, 2004).

Dampak Erosi

Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan memengaruhi kelancaran jalur pelayaran.

Dikutip dari banyak sekali asal

No comments:

Post a Comment